Bandung, 29 Oktober 2025 Curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Bandung Selatan sejak Selasa sore menyebabkan Banjir Besar Melanda di sejumlah kecamatan, termasuk Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, dan Cangkuang. Air yang terus meluap dari Sungai Citarum menggenangi permukiman warga dengan ketinggian mencapai 1,5 meter di beberapa titik.
baca juga :
Cara Memadukan Warna Pakaian Agar Tampil Stylish Setiap Hari
Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung, sedikitnya 320 rumah terendam dan lebih dari 600 warga harus mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan Tagana dikerahkan untuk melakukan evakuasi hingga dini hari.
“Kami sudah menyiapkan perahu karet dan posko darurat di beberapa titik. Fokus utama kami adalah keselamatan warga, terutama anak-anak dan lansia,” ujar Rudi Santoso, Kepala BPBD Kota Bandung.
Penyebab Banjir dan Kondisi Terparah
Hasil analisis BMKG Jawa Barat menunjukkan bahwa banjir dipicu oleh curah hujan tinggi selama dua hari berturut-turut yang mencapai lebih dari 150 milimeter per hari — angka ini termasuk kategori ekstrem.
Selain itu, drainase kota yang tidak memadai dan penumpukan sampah di saluran air memperparah kondisi di beberapa kawasan padat penduduk. Baleendah dan Dayeuhkolot menjadi dua wilayah yang terdampak paling parah karena berada di dataran rendah dekat aliran Sungai Citarum.
“Debit air Sungai Citarum meningkat hingga 1,8 meter di atas ambang normal,” kata Rina Wulandari, analis cuaca BMKG Bandung. “Jika hujan kembali turun malam ini, potensi banjir susulan masih sangat tinggi.”
Respons Pemerintah dan Aksi Cepat Relawan
Pemerintah Kota Bandung bergerak cepat dengan mendirikan tiga posko utama di Lapangan Tegalluar, Masjid Al-Muhajirin, dan GOR Baleendah. Warga yang dievakuasi mendapat bantuan logistik berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, serta kebutuhan medis.
Selain itu, Dinas Sosial dan PMI Bandung juga menyalurkan bantuan darurat untuk memastikan tidak ada pengungsi yang kekurangan kebutuhan pokok.
“Kami berterima kasih kepada para relawan dan masyarakat yang sudah ikut membantu. Koordinasi antarinstansi terus kami perkuat,” kata Wali Kota Bandung, Yana Mulyana, saat meninjau lokasi banjir.
Di sisi lain, pihak kepolisian menutup beberapa ruas jalan utama yang tergenang air untuk menghindari kemacetan dan kecelakaan. Arus lalu lintas dari arah Bojongsoang menuju pusat kota dialihkan melalui Jalan Raya Banjaran.
Prediksi Cuaca dan Peringatan Resmi BMKG
BMKG memperingatkan bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi hingga akhir pekan. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir susulan dan tanah longsor, terutama di daerah perbukitan sekitar Kabupaten Bandung.
“Kami minta masyarakat untuk aktif memantau pembaruan cuaca melalui kanal resmi BMKG dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi,” tambah Rina.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Banjir Besar Melanda juga berdampak pada aktivitas ekonomi warga. Sejumlah pasar tradisional di kawasan Andir dan Kopo mengalami penurunan aktivitas karena pasokan barang terhambat. Para pedagang mengaku kesulitan karena jalur distribusi dari arah selatan terputus.
Sementara itu, aktivitas sekolah di 12 kecamatan terpaksa diliburkan hingga kondisi membaik. Pemerintah kota mengimbau agar pembelajaran dilakukan secara daring sementara waktu.
Langkah Mitigasi dan Harapan ke Depan
Ahli tata kota dari ITB, Dr. Dimas Prakoso, menilai bahwa banjir di Bandung seharusnya bisa diminimalkan dengan perbaikan sistem drainase dan pengendalian tata ruang yang lebih ketat.
“Banjir di Bandung bukan sekadar fenomena alam, tapi hasil dari tata kelola ruang yang belum optimal. Pemerintah perlu mempercepat proyek normalisasi sungai dan edukasi warga untuk tidak membuang sampah ke saluran air,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa mitigasi bencana perlu menjadi prioritas agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap musim hujan.
Kesimpulan
Banjir Besar Melanda Bandung bukan hanya bencana tahunan, tetapi juga peringatan bagi semua pihak untuk meningkatkan kesadaran lingkungan dan memperkuat infrastruktur perkotaan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan lembaga swadaya, diharapkan Bandung bisa lebih tangguh menghadapi bencana di masa depan.

